Dirangkumdari berbagai sumber, inilah 10 peristiwa penting yang terjadi di bulan suci Ramadhan ini; Baca juga: Cara Berbagi Sedekah dengan Mudah. 1. Bulan Diturunkan Al-Quran. Beberapa hari yang ditentukan itu adalah bulan Ramadhan. Bulan yang diturunkan di dalamnya (permulaan) Al- Qur'an sebagai petunjuk untuk manusia dan penjelasan
KumpulanCerita Seputar Ramadan untuk Temani Puasa. 29 May 2018. Ramadan dan Idulfitri yang hadir setahun sekali jadi peristiwa yang dinanti-nantikan umat Islam di seluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Berbagai momen penting dan kisah yang tak terlupakan hadir meramaikan bulan penuh berkah tersebut. Meskipun tidak semuanya menyenangkan
RamadhanBersama Para Ulama. Ibnu umar memiliki kebiasaan berbuka ketika puasa bersama anak yatim dan orang miskin. Bahkan terkadang beliau tidak berbuka ketika keluarganya telah menyuruh pulang orang miskin sebelum waktunya berbuka. Beliau termasuk pengusaha kaya, hartanya halal berlimpah. Karena beliau seorang pedagang sukses yang amanah.
Kegembiraantersebut dikarenakan banyaknya berkah, kemuliaan, dan keutamaan pada bulan suci ini. Beribadah pun akan terasa lebih nikmat dan lebih semangat dalam mermunajat kepada Allah. Rasulullah bersabda: "Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya.
Inilahtiga peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan yang terjadi di zaman Rasulullah ď·ş: 1. Bulan diturunkannya Al-Qur'an. Saat Nabi mencapai usia 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta, mengeluarkan mereka dari sesatnya kebodohan menuju terangnya pengetahuan. Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijriyah Nabi
Selamatmenjalankan salah satu kewajiban umat muslim yaitu Berpuasa di Bulan Ramadhan. Semoga segala yang di kerjakan di Bulan Ramadhan menjadi manfaat untuk orang lain di sekiling anda. Sambil menunggu beduk berbunyi sambil santai suasana sore, mimin akan bagikan Kumpulan Cerita Lucu Puasa Bulan Ramadhan Terbaru. Semoga saja anda terhibur dan berpuasanya akan menjadi bersemangat,kita simak di b
BulanRamadhan memang penuh dengan keseruan dan kebahagiaan ya Sobat. Selain berpuasa, kita juga melaksanakan ibadah-ibadah pelengkap seperti Shalat Tarawih, tadarus Al-Qur'an hingga bersedekah. Nah, untuk menulis cerita dan karangan tentang pengalaman berpuasa di bulan Ramadhan, Sobat bisa memulainya dari kegiatan puasa hari pertama
Ceritatentang Indahnya Toleransi di Bulan Ramadan. Sukses Bikin Merinding dan Hati Bergetar. Toleransi beragama. 10 Mei 2019 . Author : Apalagi Bulan Ramadan telah tiba, bulan yang ditunggu - tunggu oleh umat Islam. Sepantasnya pada bulan ini kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan menjalankan puasa.
Ramadhantepat di puncak Summer. 3. Tidak terdengar suara adzan, tidak ada kentungan atau imsak. 4. Buka puasa dengan hotdog, or burger. 5. Suasananya seperti bulan biasa. 6. Masjid Nurul Mustafa, di pinggir kota Johnston County, North Carolina, selalu marak saat ramadhan dengan lampu-lampu hias.
koltZ. Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri. *** Oleh Anna Fitri Alhamdulillah, bersyukur dan bersyukur. Masih dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan oleh Allah SWT. Memasuki Ramadan kedua di tengah Pandemi Covid-19, semoga Allah masih senantiasa melindungi diri ini, keluarga, sahabat, saudara, dan pembaca Fimela semua. Ramadan selalu membawa suasana berbeda. Tentu saja, karena Ramadan adalah bulan suci, bulan yang dihormati dan ditunggu-tunggu umat Islam. Bahkan aku yakin sahabat-sahabat yang berbeda keyakinan pun menghormati dan merasakan suasana lain ketika Ramadan. Keindahan toleransi lebih terasa ketika Ramadan. Di masa kecilku, Ramadan identik dengan kegembiraan mengaji menjelang buka puasa dan tarawih bersama teman-teman. Rumah besar di depan rumahku dijadikan musala dadakan untuk jamaah salat tarawih pada setiap bulan Ramadan. Aku tidak pernah absen tarawih di sana. Masih teringat serunya berburu tanda tangan penceramah tarawih di buku Kegiatan Ramadan. Kemudian semasa aku remaja, sudah ada sedikit romantisme di sana. Bersiap tarawih sambil nunggu gebetan lewat. Sungguh malu mengingatnya. Tetapi ada hal menegangkan juga, dilema ketika esok harinya ada ulangan di sekolah, sementara aku juga harus tarawih. Solusinya adalah aku tarawih sambil membawa catatan pelajaran. Di sela-sela mendengarkan ceramah yang kadang susah dipahami, aku baca catatan pelajaranku. Pernah ada tugas membuat puisi. Aku tarawih sambil memikirkan tugas puisi itu. Melihat warna mukena yang dominan putih tiba-tiba muncul ide untuk membuat puisi bertema hitam dan putih. Intinya bahwa di dunia ini selalu ada hal-hal yang bertolak belakang, seperti hitam dan putih. Lebih religius meskipun hanya di awal Ramadan harus kuakui. Begitulah adanya. Semoga Allah mengampuni. Sesampai di pertengahan Ramadan aku mulai sibuk membantu ibu membuat pesanan kue kering Lebaran. Ibuku pandai membuat kue kering Lebaran, karena itu pesanan berdatangan, meskipun dalam skala kecil, hal itu cukup menyibukkan kami. Saat yang kutunggu-tunggu adalah ketika bapak dan ibu mengajakku membeli baju Lebaran. Kucuri waktu untuk mencari kartu Lebaran yang akan kukirimkan kepada teman-teman sekolahku. Kartu-kartu Lebaran yang unik dan lucu. Sebelum libur Lebaran, kami berjanji akan saling berkirim kartu Lebaran. Dua puluh lima tahun lalu, libur Lebaran sangat lama. Hampir satu bulan. Tidak bertemu sekian waktu membuatku rindu pada teman-teman sekolahku. Karena itu di akhir Ramadan aku selalu menunggu datangnya Pak Pos yang membawa kartu Lebaran kiriman teman-temanku. Ucapan kocak dan konyol yang tertulis menjadi pengobat rindu. Pernah ada kartu Lebaran yang istimewa dari sahabatku yang sekarang menjadi seniman dan penyiar di salah satu TV Swasta di Jogja. Kartu Lebaran handmade, terbuat dari kertas daur ulang yang dihiasi rangka tulang daun Bodhi yang tumbuh di depan Balairung Universitas Gadjah Mada. Kertas daur ulang dan rangka daun Bodhi dibuat sendiri olehnya. Sangat istimewa. Saat ini masih tersimpan rapi. Tersimpan rapi di diary dan di memori. Itulah Ramadanku yang dulu, indah dan ceria. Pengalaman Ramadan Kedua di Tengah PandemiIlustrasi./Copyright yang sekarang, setelah menjadi istri, ibu dan menantu yang tinggal bersama ibu mertua, juga tak kalah indahnya. Mempersiapkan menu sahur dan berbuka menjadi rutinitas yang menyenangkan. Aku lebih mengutamakan memasak untuk sahur daripada untuk berbuka. Karena menu berbuka banyak tersedia di warung tetangga. Sedangkan menu sahur harus kusediakan sendiri. Sejak anak pertamaku ikut berpuasa, aku selalu berusaha menyediakan menu sahur lengkap. Supaya dia lebih bersemangat puasa. Nasi hangat yang baru, sayur berkuah, lauk berprotein yang menarik menurut versi anakku, dan sambal kesukaan suami kalau sempat. Tak lupa teh hangat, kurma dan madu sebagai tambahan suplemen. Aku tidak pandai memasak. Rasa masakanku tidak seenak masakan ibu. Tapi aku berusaha menyajikan yang terbaik. Untung ibuku pandai memasak. Variasi masakan rumah yang biasa aku makan sejak kecil di rumah ibu lumayan banyak. Sehingga mambantuku untuk memperkaya khasanah pengetahuan dunia kulinerku. Untungnya suami, anak, dan ibu mertuaku tidak rewel terhadap masakanku. Tidak terlalu mempermasalahkan soal rasa. Yang penting menu lengkap, sehat dan bergizi. Sahur pertama Ramadan tahun ini cukup menegangkan. Aku bangun pukul melewati meja makan, aku melirik penanak nasi yang baru kubeli kemarin sore. Terlihat lampu indikator di posisi warm. Aku lega, ibu mertuaku sudah masak nasi dan nasi sudah matang. Aku segera ke dapur memulai aktivitas di dapur. Menjerang air, memasak bakmoy, menggoreng tempe, menggoreng telur, dan membuat sambal kecap. Semua kondusif. Sempurna. Sudah siap sahur. Kubangunkan suami, anak dan ibu mertuaku. Ketika suamiku membuka penanak nasi, isinya beras terendam air. Ternyata ibu mertuaku lupa belum mencet tombol cook. Ambyar-lah kesempurnaan sahur pertama ini. Ibu merasa bersalah, dan langsung ke rumah kakak iparku, minta nasi. Untung masih ada. Alhamdulillah masih tertolong. Duh, sahur pertama yang mendebarkan dan mempertaruhkan harga diriku hahaha. Seperti kutuliskan di atas, tahun ini adalah tahun kedua Ramadan dalam suasana pandemi. Setelah satu tahun melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh, pada pertengahan bulan Ramadan ini sekolah tempatku mengajar menjadi sekolah percontohan untuk melaksanakan uji coba Pembelajaran Tatap Muka. Sekolah percontohan atau sekolah percobaan, aku juga kurang tahu. Setelah melengkapi berbagi sarana sekolah untuk menghadapi era new normal, menyusun formula jadwal dan berbagai SOP Standart Operating Procedure yang dirasa aman untuk semua warga sekolah, maka dimulailah kegiatan uji coba Pembelajaran Tatap Muka. Sempat merinding membayangkan bertemu sekitar dua ratus lima puluh siswa yang datang dari berbagai wilayah, dengan kondisi tak menentu. Tetapi the show must go on. Vaksin dan doa adalah bekal ikhtiar kami untuk tetap sehat. Kami mengawasi setiap gerak siswa di sekolah. Tak jemu-jemu kami memperingatkan siswa untuk tetap bermasker, sering cuci tangan, dan jaga jarak antar teman. Hal sederhana yang ternyata sulit sekali diterapkan. Siswa kerap membuka masker karena tidak tahan pengap. Siswa kerap bergerombol saking senangnya bertemu dengan teman-teman setelah satu tahun tak berjumpa. Tapi kami tak lelah untuk mengingatkan dan selalu mengingatkan mereka. Menanamkan kebiasaan baru demi keselamatan semua. Uji coba ini berlangsung dua minggu. Setelah dua minggu akan dievaluasi pelaksanaannya. Sungguh kami berharap bahwa uji coba Pembelajaran Tatap Muka di tengah bulan Ramadan ini memberikan hasil yang memuaskan, semua aman, dan tidak menciptakan klaster baru.ElevateWomen
Cerpen Karangan Anisah RahmadaniKategori Cerpen Anak, Cerpen Islami Religi, Cerpen Ramadhan Lolos moderasi pada 20 July 2017 Ada seorang anak bernama Ma’wa dan Naim, mereka adik dan kakak, mereka sangat rukun. Si kakak bersekolah kelas 5 SD sedangkan si adik kelas 3 SD. Pada suatu hari pak Nino dan bu Marua kedua ortu Ma’wa dan Naim sedang berbincang-bincang tentang Bulan Ramadhan, karena sebentar lagi Puasa “Pak, kita sudah segera puasa, kita harus bersiap-siap, kita harus memberitahu Ma’wa untuk melunasi puasanya yang bolong tahun kemarin dan menyuruhnya untuk membelajari adiknya berpuasa dan memberinya semangat” kata bu Marua panjang lebar, “Iya bu benar, itu sudah menjadi amalan kita saat bulan puasa…” jawab pak Nino, “Ya sudah, ibu panggil Ma’wa dulu ya..” kata bu Marua lagi, “Iya bu” jawab pak Nino singkat sambil menyeruput kopi hangatnya. Setelah semuanya berkumpul, pak Nino bicara pada Ma’wa, “Nak, kamu sudah melunasi puasamu yang bolong kemarin?” tanya bapaknya, “Iya pak, sudah… saya bolong 7… dan sudah dilunasi semua” jawab Ma’wa sopan, “Baguslah nak kalau begitu… mmm, bapak dan ibu punya usulan.. kamu harus mengajarkan adikmu berpuasa, agar dia nantinya bisa kuat berpuasa… kamu harus memberi semangat adikmu supaya dia berusaha untuk menahan nafsunya!!” suruh pak Nino, “Iya pak, itu pasti… saya tidak akan melupakan adik saya untuk saya ajari berpuasa… dia pasti akan saya ajari tentang semua hal yang berada dalam bulan Ramadhan, seperti saat saya mengajarinya untuk rajin shalat 5 waktu… karena bapak dan ibu juga telah mengajarkan Ma’wa tentang semua hal itu” jawab Ma’wa panjang lebar, “Bagus sayang, kamu memang kakak yang baik…” puji ibunya, Ma’wa hanya tersenyum malu. “Ibu, bapak, kakak… bulan Ramadhan, Puasa itu apa? Naim enggak ngerti!!” tanya Naim sambil berfikir, “Jawablah nak” suruh ibunya pelan, “Adikku sayang… bulan Ramadhan, Puasa adalah dimana orang Islam harus melakukan ibadah seperti berpuasa, bertadarus, berdzikir di masjid atau musholla, beri’tikaf dan berterawih.. dan lain lain, mereka semua melaksanakannya dengan tulus dan ikhlas.. karena di bulan ini, pintu surga dibuka dan setan-setan diikat…. bulan ini adalah bulan paling istimewa dimana para umat manusia meningkatkan ibadahnya, jadi kita juga harus begitu… harus siap dari sekarang… di bulan Ramadhan juga ada malam paling istimewa di 10 hari terakhirnya, yaitu malam Lailatul Qadar…” jawab kakaknya, “Ooo… gitu, Naim faham kak!! tapi… berpuasa, bertaddarus, beri’tikaf itu apa?” tanyanya lagi, “Berpuasa adalah kegiatan menahan diri dari makan minum dan hal-hal lainnya yang bisa membatalkan puasa dari sebelum terbit fajar sampai terbenam matahari, sebelumnya kita harus sahur dulu, lalu setelah mendengar adzan maghrib kita baru boleh makan dan minum sepuasnya yang artinya berbuka, dan masing-masing ada do’a dan niat… lalu bertaddarus itu kegiatan membaca al-qur’an pada bulan puasa atau ramadhan saat pagi hari dan malam hari setelah terawih di masjid atau musholla… dan beri’tikaf adalah kegiatan duduk dan diam di masjid atau musholla dengan niat ibadah, kita meminta atau berdo’a pada Allah SWT…” jawab kakaknya, “Oooo… Naim sekarang semakin faham, tapi kak… ajarkan semua do’a dan niat yang kakak Ma’wa maksud tadi dong” pinta Naim, “Iya.. nanti kakak catatkan dan bantu kamu untuk menghafalkan” jawab kakaknya sambil tersenyum manis “Naim sayang… kamu harus ingat kata kakak y” suruh ibunya, “Tenang bu!! itu pasti” jawab Naim, “Iya… karena itu semua penting” kata bapaknya pula, “Oke pak, siap” jawab Naim. Bulan Ramadhan pun tiba, jam shubuh keluarga Ma’wa bangun untuk sahur bersama, “Ma’wa, sudah… biar ibu lanjutkan masaknya sendiri, kamu cepat bangunkan adikmu, setelah sahur kita shalat shubuh bersama..” suruh ibunya, “Oh, baik bu…” jawabnya. Setelah membangunkan adiknya, mereka semua sahur bersama, menu sahurnya adalah nasi, ikan gurame goreng, sambal balado, mentimun, kemangi dan teh hangat, mereka semua sahur, tapi sebelumnya berdo’a dulu. Setelah sahur mereka membaca niat puasa lalu wudhlu dan shalat shubuh. Kegiatan itu dilakukan keluarga Ma’wa saat bulan puasa, dan selalu shalat berjamaah… mereka juga sering shodaqoh, rajin taddarus dan slalu berdo’a. Setelah bulan puasa berakhir Hari Raya Idul Fitri pun tiba, keluarga Ma’wa memakai baju baru semua, tidak ada yang bolong puasanya, termasuk Naim, “Bahagianya… bisa puasa penuh dan rajin melaksanakan ibadah lainnya, ini semua karena kakak yang selalu mengajarkanku tentang semua hal yang baik, bapak dan ibu juga… terima kasih semuaaa” kata Naim sangat bahagia, “Sama-sama dek… sebagai seorang kakak memang harus begitu, kakak kan sangat sayang sama kamu” jawab kakaknya, “Iya sayang, sama-sama…” jawab bapak dan ibunya kompak, “Iya, Naim sangat bahagia punya keluarga yang saaaa…ngat baik, terima kasih untuk semua keluargaku” kata Naim lagi, “Sama-sama” jawab keluarganya serempak. Lalu mereka bersilahturahmi kepada tetangganya dan bersama tetangganya. Cerpen Karangan Anisah Rahmadani Panggilan Nisah TTL Mojokerto, 28 Oktober 2004 Umur 12 Thn Agama Islam Kebangsaan Indonesia Alamat Rejo, Ds. Gayaman, Rt. 01, Rw. 03, Kec. Mojoanyar, Kab. Mojokerto, Prov. Jatim Instagram Ara_n_r Line Rahni Email Anisahramadani026[-at-] Kata Sandi Nisah2810 Nope 085852891908 Cerpen Indahnya Ramadhan merupakan cerita pendek karangan Anisah Rahmadani, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Putri Cimberline Oleh Alvina Aurelia Dahulu, di Kerajaan Inggris yang dikuasai Raja Anderson dan Ratu Lyriena, mereka mempunyai seorang Putri yang bernama Cimberline, Pada suatu hari Putri merayakan ulang tahunnya yang ke 17 Tahun, Kinci Oh Kinci Oleh Adinda Hijriya N. Kinci adalah kelinci kecil sangat jahil! waktu itu saja kinci pernah mengikat kedua telinga cici yang panjang menjadi satu. Huh, Kinci memang kelinci yang jahil! Pada suatu hari.. Tralalala…. Kembali Keniat Awal Oleh Faddilatusolikah Mentari masih enggan menampakkan sinarnya. Namun pagi ini harus ku paksakan melangkahkan kaki untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Udara dingin menyelimuti tubuhku yang mulai menggigil. Ku intip wajah Membagikan Telur Oleh Patricia Joanne Siang itu, rumah si kembar Delancey Dela dan Stacey Aci yang sibuk dikejutkan oleh seseorang. “Halo, anak-anak! sibuk sekali kalian sampai pamanmu ini tidak dibukakan pintu,” kata sosok misterius Kampung Pindah Oleh Indra Yogatama Sore ini aku ada janji dengan mas Anam untuk ikut ngaji di tempatnya ustad Faqih. “Mas Anam, ayo berangkat!” teriakku di depan rumah mas Anam. “Sebentar aku ganti baju “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Sudah menjadi hal yang maklum bahwa Ramadhan adalah bulan yang mulia, bulan penuh berkah. Bulannya orang berpuasa, bulannya orang beribadah. Namun, tahukah anda apa saja peristiwa besar dalam sejarah hidup Nabi yang terjadi di bulan Ramadhan? Berikut ini tiga peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan yang terjadi di zaman Rasulullah ﷺ1. Bulan diturunkannya Al-Qur’anSaat Nabi mencapai usia 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta, mengeluarkan mereka dari sesatnya kebodohan menuju terangnya pengetahuan. Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijriyah Nabi menerima wahyu pertama. Pakar astronomi, Syekh Mahmud Basya menuturkan, waktu itu bertepatan dengan awal Februari tahun 610 masa-masa turunnya wahyu pertama, Nabi sangat sering berkhalwat di gua Hira, menjauh dari manusia dan beribadah khusyu’ di sana selama beberapa hari. Terkadang 10 hari, terkadang lebih sampai satu bulan. Ritual ibadah Nabi di gua Hira mengikuti tata cara yang dipakai kakeknya, Nabi Ibrahim tengah-tengah peribadatannya di gua Hira, Nabi didatangi sosok yang tak pernah dikenalnya. “Bergembiralah wahai Muhammad, aku Jibril. Dan engkau adalah utusan Allah untuk umat ini,” tutur sosok malaikat itu. Kemudian Jibril menyuruh Nabi membaca, Nabi menjawab tidak bisa. Perintah itu sampai diulang tiga kali oleh Jibril, jawaban Nabi sama “Mâ anâ bi qarî’in, aku tidak bisa membaca.” Kemudian Jibril membacakan wahyu pertama, Surat al-Alaq ayat 1 sampai Perang BadarPerang Badar atau biasa disebut Ghazwah Badr al-Kubra adalah perang yang menjadi pembeda, menandai awal kejayaan kaum Muslimin. Dengannya Allah memuliakan Islam, meninggikan menaranya, dan mengikis peperangan ini, Nabi membawa 313 pasukan Muslim, menghadapi 950 pasukan non-Muslim. Perbedaan jumlah pasukan yang mencolok tersebut tidak lantas mengecilkan nyali tentara Muslim. Dengan tekad yang kuat membela Nabi, kaum Muslimin berhasil memporak-porandakan pasukan kafir. Allah menguatkan mereka dengan malaikat-malaikat. Kaum kafir Quraisy lari sejadi-jadinya, kaum Muslim mengejar mereka, membunuh, dan pasukan Muslim, gugur 14 orang syahid. Dari pasukan kafir, yang terbunuh dan tertawan masing-masing 70 orang. Di antara yang terbunuh adalah Abu perang, Nabi memerintahkan untuk mengebumikan Muslim yang gugur, demikian pula memakamkan kafir yang terbunuh. Beliau kembali ke Madinah disambut senandung nan indah oleh pemuda-pemuda Madinah“Telah datang sang purnama kepada kami, dari bukit Tsaniyyah al-Wada’. Wajib bagi kita bersyukur, selagi orang berdoa senantiasa memanjatkan do’a. Duhai Rasul kami, engkau datang dengan membawa ketaatan”.Peristiwa perang badar terjadi pada hari Jumat 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah bertepatan dengan 13 Maret 624 Pembebasan Kota MakahTanggal 20 Ramadhan tahun 8 Hijriyah merupakan waktu yang bersejarah dalam Islam. Di tanggal tersebut, Rasulullah dan para sahabtanya berhasil menaklukan kota Mekah dalam sebuah peperangan yang disebut dengan perang Fathu Mekah penaklukan Mekah.Peperangan tersebut dipicu oleh perlakuan orang Quraisy yang merusak satu perjanjian dari beberapa perjanjian Hudaibiyyah. Orang Quraisy bersekongkol dengan kabilah lainnya untuk memerangi orang-orang yang berdamai dengan Rasul. Dalam pertempuran itu, Nabi mengerahkan pasukan Muslim. Rasul mengutus sahabat Khalid bin Walid sebagai panglima perang dan memerintahkannya agar tidak memulai menyerang sebelum diserang. Bersama mereka, Nabi berperang dalam keadaan berpuasa, kemudian berbuka di tengah jalan karena mengalami keberatan masyaqqah.Peperangan antara pasukan Nabi dan kafir Quraisy tidak bisa dihindarkan lagi. Pada akhirnya, pasukan Muslim berhasil menaklukkan tentara Quraisy hingga mereka menyerah. Pasca-perang itu, Nabi memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar Ka’bah yang berjumlah 360. Selepas itu, kaum Muslimin mengumandangkan takbir, Rasulullah shalat di Maqam Ibrahim dan meminum air Zam kafir Quraisy yang sudah takluk tidak berdaya harap-harap cemas. Mereka yang dahulu menyakiti, mengusir dan berencana membunuh Nabi menunggu keputusan beliau memperlakukan mereka. Bisa saja Rasul membunuh mereka. Namun dengan belas kasihnya yang luas, beliau memaafkan dan membebaskan mereka. “Pergilah, Kalian bebas”, pungkas Nabi. Demikian tiga peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan dalam. Semoga di bulan yang mulia ini kita diberi keberkahan untuk menjadi mulia di sisi-Nya. M. Mubasysyarum BihDikutip dari berbagai referensi, di antaranya Muhammad bin Afifi al-Khudlari, Nur al-Yaqin; dan Shafi al-Rahman al-Mubarakfauri, al-Rahiq al-Makhtum. Catatan Naskah ini pertama kali tayang di NU Online pada 27 Mei 2018, pukul Redaksi mengunggahnya ulang pada Ramadhan kali ini