Syiah nyaris tak ada bedanya dengan Yahudi.Mereka tahu ilmu tapi tidak mau mengamalkannya,ngeyel, bahkan mendustakan Allah dan Rasul-Nya, seperti itulah Syiah. Dibawah ini akan kami paparkan sepenggal kisah nyata tentang seorang akhwat Ahlus Sunnah bernama Aisyah yang kami kutip dari koepas.com tentang seorang ustadz Syiah yang sepertinya ia tahu kalau ia berada dalam KisahAisyah ini terjadi pada hari Senin (15/9/14) di kota Medan, sebelum dia pergi ke masjid untuk mengisi kajian ibu-ibu dekat rumah, dia menyempatkan untuk mampir dulu ke rumah sepupu karena ingin mengambil kitab Fiqih Sunnah yang beberapa hari lalu dipinjamkan kepada sepupunya karena Aisyah akan membawanya ke pengajian. KUNDUZ| okemedan. Bom bunuh diri di sebuah masjid Syi'ah di kota Kunduz, Afghanistan menewaskan sedikitnya 55 orang yang sedang beribadah sholat Jumat menurut kantor berita AFP. Serangan ini menjadi serangan yang paling mematikan sejak pasukan AS meninggalkan negara itu. TRIBUNPEKANBARUCOM - Serangan bom di masjid saat sholat Jumat kembali terjadi di Afghanistan. Kali ini serangan bom itu terjadi di kota Kandahar pada Jumat (15/10/2021). ledakan bom menewaskan 16 jemaah dan membuat 32 lainnya luka-luka. "16 jenazah dan 32 korban luka dibawa ke Rumah Sakit Mirwais," kata juru bicara rumah sakit kepada AFP. SUARAMASJID adalah portal berita seputar masjid-masjid di Nusantara dan Mancanegara. Semoga sajian berita di Suara Masjid bermanfaat bagi umat Islam khususnya, masyarakat umumnya. Minggu , 24 Oktober 2021 REPUBLIKACO.ID, KABUL -- Sebuah bom dikabarkan meledak di pekarangan luar sebuah rumah ibadah di Afghanistan pada Rabu (12/10). Sedikitnya 14 orang tewas dan 24 orang luka akibat ledakan bom tersebut. Dilansir Reuters, serangan bom ini menargetkan kalangan minoritas Syiah yang tinggal di Afghanistan. Serangan dilancarkan ketika minoritas Syiah sedang berkumpul memperingati Asyura, hari suci MasjidSyiah di Maza-iSharif, Afghanistan, dibom. Peristiwa itu menewaskan 30 orang dan 80 orang terluka. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas insiden itu. "Tentara khalifah berhasil menyelundupkan bom tas [ke dalam masjid]," demikian pernyataan ISIS melalui Telegram, seperti dilansir dari AFP, Jumat (22/4/2022). Pejabatsetempat melaporkan bom bunuh diri di sebuah masjid yang dipenuhi jemaah Muslim Syiah saat salat Jumat, ISIS-K mengklaim bertanggung jawab. Minggu, 10 Oktober 2021 Sebut Biden Harus Minta Maaf, Donald Trump: Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan adalah Penghinaan Dihari yang sama, setidaknya empat orang tewas akibat serangan bom di Kota Kunduz. Serangan bom ke tempat ibadah seperti masjid kaum Syiah bukan lagi hal baru di Afghanistan. Sejak Taliban berkuasa di Afghanistan, cabang ISIS di negara itu (ISIS-K) pun kembali menggencarkan serangan yang menyasar tempat umum terutama masjid-masjid. (cnn/hm06) Ledakanbom di sebuah masjid pemeluk Syiah di Baghdad timur menewaskan tujuh orang dan melukai lebih dari 20 orang lainnya pada Jumat, menurut sumber kepolisian. Polisi berlakukan buka tutup jalur Medan-Berastagi akibat longsor. Minggu, 24 Oktober 2021 12:01. Membangkitkan kesadaran masyarakat untuk hindari petaka pinjol ilegal. Minggu, 24 dvye1. Masjid Syiah di Pondok Gede Bekasi “Masjid al Mahdi” - Ajaran sesat syiah rupanya mulai menggurita dan menampakkan taringnya. Satu diantara indikasinya adalah dibangunnya masjid-masjid syiah di Indonesia. Adalah Masjid Al-Mahdi yang beralamat di Jl. Raya Hankam RT 04/RW02 No79 Kel. Jati Rangon, Jatisampurna, Pondok Gede, Bekasi merupakan salah satu masjid Syiah terbesar di Indonesia. Waspadalah! Selain menjadi sarana peribadatan, masjid ini juga digunakan untuk kajian beberapa tokoh Syiah sebagai berikut 1. Kajian Tafsir Al-Quran Yang Di Bawakan Oleh Husein Alatas, Othman Omar Syihab,Dan Ali Bahasa Ibu-Ibu Oleh Ali Alhaddad, Dzikir Dan Sholawat Situs blog masjid Syiah "al-Mahdi" nisyi/ ************************ Ayo Gabung dengan Sekarang Juga! Artikel Syiah Lainnya Medan - Masjid Raya Al Mashun merupakan salah satu ikon dari Kota Medan. Masjid ini adalah saksi sejarah kebesaran Kesultanan Melayu di Jalan Sisingamangaraja, Medan, Masjid Raya Al Mashun berdiri kokoh dan megah. Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara gaya Timur Tengah, Spanyol, dan dari situs Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Disbudpar Sumatera Utara Sumut, pembangunan masjid ini dimulai pada 1906 dan selesai pada 1909. Pembangunan dilakukan di masa Sultan Ma'mun Al Rasyid dan menghabiskan biaya sekitar 1 juta gulden. "Masjid Raya Medan ini merupakan saksi sejarah kehebatan suku Melayu sang pemilik dari Kesultanan Deli," tulis situs Disbudpar seperti dilihat detikcom, Jumat 14/5/2021.Masjid ini berbentuk segi delapan dan memiliki sayap di bagian selatan, timur, utara, dan barat. Masjid ini disebut mampu menampung dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara UINSU, Hendri Dalimunthe, mengatakan masjid ini memperkuat eksistensi dari Kesultanan Deli. Dia menyebut Istana Maimun dan Taman Sri Deli, yang berada di dekat masjid, awalnya berada di satu kompleks yang sama."Satu kesatuan, satu kompleks. Istana Maimun itu tempat pemerintahan tradisional Sultan Deli, Masjid Raya tempat ibadah, taman itu sebagai tempat bangsawan duduk di sore hari," ucap Hendri."Masjid raya ini juga bentuk kemegahan dari Kesultanan Deli, itu dibangun di masa Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alam. Jadi sultan ini yang membangun, dia juga yang menentukan siapa yang menjadi imam di masjid itu," Masjid Raya disebut memiliki terowongan bawah tanah >>> Masjid ini didominasi warna-warna lembut seperti biru muda, krem, kuning, dan hitam pada bagian kubah Foto Helinsa Rasputri/kumparanTak cuma sebagai tempat beribadah bagi umat Islam, kini masjid dikenal juga sebagai tempat wisata religi yang patut untuk disambangi ketika melancong. Biasanya, adat dan budaya yang berkembang di suatu daerah akan memberikan sentuhan tertentu bagi bangunan ikoniknya, termasuk masjid. Medan misalnya, kehadiran masjid di kota ini bukanlah barang baru. Sejak masuk dan berkembangnya Islam ke Sumatera melalui Aceh, satu per satu masjid mulai berdiri. Ada yang bertahan hingga kini dan berusia ratusan tahun lamanya, ada pula yang dijadikan sebagai ikon wisata. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut kumparan rangkum empat masjid tua dan ikonik yang paling bersejarah di Kota Medan. 1. Masjid Raya Al-MashunMasjid Al Mashun dikenal pula sebagai Masjid Raya Medan Foto Helinsa Rasputri/kumparanMasjid ini didirikan pada 1906 oleh Sultan Deli IX atau yang dikenal pula sebagai Sultan Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alam Syah. Masjid Raya Al Mashun selesai dibangun pada 1909, kemudian diresmikan pada 15 September Masjid Raya Al Mashun menggabungkan gaya Turki, Arab, Eropa, dan India. Masjid itu didesain oleh JA Tingdeman, seorang arsitek asal Belanda yang dipanggil secara langsung oleh sultan. Menariknya, masjid ini dibangun dengan biaya dari kantong pribadi sang sultan. Penggunaan warna biru dan kuning yang digunakan pada bangunan masjid menjadi salah satu ciri budaya Melayu yang disematkan dalam Masjid Raya Al Mashun. 2. Masjid Al OsmaniTempat wudhu di Masjid Raya Al Osmani. Foto Ade Nurhaliza/kumparanMasjid Raya Al-Osmani berdiri pada tahun 1854. Masjid ini dibangun oleh sultan ke-7 Kesultanan Deli, yakni Sultan Osman Perkasa Alam. Mulanya masjid tersebut berbahan kayu dengan ukuran 16x16 meter berbentuk rumah panggung. Namun, kini setelah kurang lebih tujuh kali renovasi, Masjid Raya Al-Osmani memiliki luas hingga 2 hektare. Kapasitasnya mencapai orang, dengan rincian 500 orang pada bagian depan dan 500 orang di bagian belakang. Meski sudah berusia lebih dari 100 tahun, Masjid Raya Al-Osmani baru dinobatkan sebagai salah satu cagar budaya Kota Medan pada tahun 2016. Menariknya, sebelum pandemi, masjid ini selalu menyajikan bubur pedas sebagai panganan berbuka setiap hari Kamis saat puasa. 3. Masjid Lama Gang Bengkok Mesjid Tua Gang Bengkok Foto Ade Nurhaliza/kumparanSelain Masjid Raya Al-Osmani, Masjid Lama Gang Bengkok yang berlokasi di kawasan Kesawan juga punya warna kuning yang cerah dan berani. Masjid ini awalnya hanyalah sebuah surau atau langgar dengan bangunan sederhana. Lalu pada Masehi, surau tersebut dibangun menjadi sebuah masjid oleh seorang dermawan berkebangsaan China, Tjong A Fie. Setelah dibangun oleh Tjong A Fie, masjid tersebut diserahkan ke Sultan IX Deli, Makmun Al Rasyid Alamsyah masjid itu merupakan kombinasi dari beberapa kebudayaan, seperti China, Melayu, dan Persia. Atapnya dibuat menyerupai kelenteng. Lalu ada pula simbol lebah khas Melayu, serta simbol lingkaran awalan tanpa akhir khas Persia yang bisa kamu temukan di dekat plafon bagian dalam masjid. 4. Masjid Datuk Badiuzzaman SurbaktiDidirikan pada 1885, Masjid Datuk Badiuzzaman Surbakti kini sudah berusia sekitar 135 tahun. Sekilas, bangunannya tak nampak seperti masjid, tapi apabila kamu lihat lebih dekat, bangunan ini menggunakan warna kuning dan hijau yang khas adat Melayu. Atapnya sendiri berbentuk limas, bukan kubah seperti yang biasa kamu temukan di masjid-masjid lainnya. Masjid ini menggunakan nama salah seorang pahlawan yang memimpin perlawanan terhadap Belanda, Datuk Badiuzzaman Surbakti, anak dari Raja Sunggal selain dijadikan sebagai tempat ibadah, masjid ini juga digunakan sebagai tempat musyawarah ketika menyusun rencana perang. Nah, yang unik lagi dari masjid tersebut adalah kabarnya pembangunannya dibuat menggunakan semen dan putih telur, sehingga merekat kuat dan tak mudah rusak. Wah, unik, menyambangi keempat masjid ini saat wisata religi ke Medan usai pandemi? Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.